Pernah dengar kisah ini gaaaaaa….???? jika belum saya akan mengisahkan untuk teman teman. Glenn Doman pernah bercerita tentang seorang ibu yang bertanya kepada ahli perkembangan anak. pertanyaannya sederhana, yaitu kapan ia harus mulai mendidik anaknya.
“kira - kira kapan anak ibu akan lahir ? ahli itu bertanya dengan antusias.
“Oh, anak saya telah berusia lima tahun sekarang,” jawab ibu itu
“cepatlah pulang, bu !”
“kenapa ?” tanya si ibu dengan penuh keheranan
“ibu telah menyia - nyiakan lima tahun terbaik dari hidup anak ibu.”
Hmmm…. kisah diatas sekedar potongan peristiwa tentang urgensi pendidik anak sejak dini, bahkan menurut saya sejak bayi, yang tidak boleh diabaikan kedua orang tuanya. Wallahu a’alam.
Ketika membaca cerita ini, aku langsung berkomentar…. dan tiba tiba perasaan untuk menyiapkan kematangan anak muncul begitu saja ketika aku harus mendampingi istriku, saat hamil pertama. Memang, saat ini usia kehamilan istriku belum seberapa baru memasuki trisemester pertama, kurang lebih baru enam minggu. masa ini merupakan masa organogenesis atau pembentukan organ bayi.
Keinginan untuk menyiapkan kematangan bayi, sekaligus mengawal perkembangan organnya, muncul tatkala istriku mengalami hiperemesis gravidarum (mual muntah terjadi secara berlebihan). Istriku selalu mengeluh merasakan mual muntah. tidak sekedar itu, ia juga menjadi malas untuk makan. Dalam situasi seperti itu, aku jadi berpikir, dia harus didampingi, dan harus ada suport motivasi dan dukungan psikologis. Mungkin ini pekerjaan semua lelaki pada awal-awal kehamilan istrinya; menjadi suami untuk istrinya dan belajar sebagai ayah untuk (calon) bayinya.
Emesis gravidarum atau mual muntah yang secara natural dialami istri saat hamil, seakan menjadi wasilah (sarana) pembelajaran bagi para suami. ia menyebabkan terjadinya dua keadaan sekaligus, yaitu kegelisahan psikologis dan kelemahan fisik. kegelisahan psikologis sering muncul dalam kalimat kalimat negatif, seperti keluhan, marah, atau letupan letupan emosional. sementara itu, kelemahan fisik muncul akibat berkurangnya nafsu makan istri. akibat lebih jauh, sebenarnya adalah terbatasnya asupan gizi bagi janin. kondisi seperti ini jelas akan berakibat bagi perkembangan janin. Wallahu a’alam.
Saat seperti inilah, aku merasakan kemuliaan islam untuk menjaga kehidupan anak. kesadaran inilah yang akhirnya aku temukan sepanjang menyaksikan perkembangan istriku. Subhanallah, dalam banyak tempat, islam menegaskan persoalan ini.
“Sesungguhnya rugilah orang - orang yang membunuh anak - anak mereka karena kebodohan tanpa pengetahuan……. (QS. Al-An’am ; 140). atau seperti diperingatkan Allah ta’ala dalam firman-Nya : Hendaklah takut kepada Allah, orang - orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak - anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-NBisa;9)
Begitu jelas Alquran men-tarbiyah kita agar tidak meninggalkan dzurriyyatan dhi’aafan (generasi yang lemah). Sebuah kesadaran tentang pendidikan anak sejak dini yang luar biasa. artinya, secara psikologis dan fisiologis penyiapan perkembangan janin harus mendapat perhatian.
Melalui dia (istriku), aku merasa sedang ditarbiyah untuk menjadi suami yang lebih dekat dengannya, sekaligus sebagai ayah yang memperhatikan perkembangan janin. ketika Al-quran mengatakan agar orang tua bertakwa (falyattaqullaha), itu artinya calon orang tua harus menyiapkan kematangan spiritualitas secara prima. sementara itu, ketika Al-quran menganjurkan para orang tua untuk mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadida), aku tersadar untuk menasehati istriku agar tidak banyak mengeluh dan mengganti keluhan - keluhan itu dengan kalimat - kalimat thayyibah. tentunya, nasehat itu juga aku tujukan untuk para suami. dalam hal inilah, peran pendampingan terhadap istri menemukan titik temunya. Wallahu a’lam.
“Aku hanya berpikir agar anak kami nantinya tidak menjadi pribadi yang cengeng yang suka mengeluh, karena sejak dalam kandungan, kami orang tuanya mengajarinya untuk itu. aku juga tidak menghendaki anakku hidup dengan menihilkan ketulusan dan keikhlasan, karena ayahnya juga melakukan hal yang sama ; menjagai ibunya dengan perasaan tertekan dan penuh beban. Aku tidak memimpikan anakku menjadi reaksioner dan mudah marah, karena kami ajari dia sejak dalam rahim dengan perkataan -perkataan emosional dan sarat kemungkaran.” hmmmm….
Sungguh, aku sedang diajari dan dipersiapkan untuk menjadi AYAH. sebutan yang sekaligus mengandung sejumlah makna ; cinta dan tanggung jawab, kasih sayang dan pengorbanan, perhatian dan ketulusan, yang selama ini hanya aku lontarkan melalui lisan kepada istriku, kini aku harus belajar untuk membuktikannya…. (hayo.. hayo.. para suami buktikannnnn…. )
Pada saat seperti inilah, aku mengharapkan intervensi dari kekuasaan Allah ta’ala yang tiada terbatas dan bersekat. sebagaimana Nabi Ibrahim as berdoa :” ya Rabbi, aku memohon agar keturunanku senantiasa mendirikan shalat, agar mereka dicintai dan agar mereka diberi rezeki yang halal, mudah mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim ; 37) . Allahumma amiin.

May 21st, 2009 at 9:19 pm and tagged  | Comments & Trackbacks (0) | Permalink