SELAMAT ULANG TAHUN
Selamat Ulang Tahun Sayang !
Walau kita tak lagi dekat
Tetap saja dirimu kuingat
Selamat Ulang Tahun Sayang
SALAHKAH BILA KU MENUNGGUMU ?
Hari ini tak ubahnya seperti kemarin
Aku duduk terdiam…
menunggu engkau datang
Bukan aku tak dapat pergi meninggalkan masa lalu
Jika hanya engkau yang berarti bagiku…
Tak bolehkah aku menunggu…?
TAKAN BISA BERHENTI (MENCINTAIMU)
Aku takkan pernah bisa berhenti mencintaimu
Meski jalan hidup kini harus kulalui tanpamu
Aku takkan berpura-pura melupakanmu
Saat semua harapan hidup… hanya tentangmu
Kutahu…slamanya mungkin ada sendiri
Andai hingga kelak kau tak pernah kembali
Bersyukurku sadari, cinta bukan untung-rugi
Dan semua kenangan yang silam pasti berarti
Tak ada pedih saat kutahu kau tak lagi sendiri
Rasa cintaku hanya tulus untuk memberi
Kumengerti, kupahami…
Cinta yang sejati tak meminta balik dicintai
Dan sendiri, bukanlah sebuah tragedi
SAAT INI
Hari ini, entah hari keberapa
Kumerindukanmu…
Merindukan saat-saat dekat
Pada siapa kucurahkan segala hidupku
Waktu dengan detik-detiknya yang menyiksa
Jam yang berputar pelan namun tak membawaku pada kesabaran
Dan menit…yang sibuk mencari arti diantara keduanya
Semua, hanya membawaku pada penantian, membosankan
Kuingin cinta ada disini !
Saat ini !
Mentari yang bergelut dengan rutinitas pagi
Dan bulan yang menunggu waktu tuk rutinitas malam
Membawaku…pada satu rutinitas yang membosankan
Rindu yang tak tertahan
Kuingin cinta membelaiku !
Saat ini !
LAIN DULU LAIN SEKARANG
Dulu kau bilang “jangan tinggalkan”
Sekarang kau bilang “Sudah lupakan!”
Sungguh aku tak paham
Dulu kau bilang hanya aku yang kau sayang
Takkan ada yang lain mampu menggantikan
Kini kau bilang itu silam
Dulu kau bilang, dan aku selalu percaya
Waktu berjalan tak sedikitpun kuragukan
Hingga s’mua menjadi kenangan
SELALU CINTA
Tak pernah aku meminta
Cinta di hatimu untukku
Tak jua pernah terucap
Kasih di dirimu, untukku
Hanya kunyatakan cinta
Saat kau balas mencintaiku
Hanya kuberikan sayang
Lalu juga engkau menyayangiku
Semua tetap penuh rela
Hingga saat kau melupakanku
Juga tetap kan ada cinta
Meski semua tentangmu tak lagi aku
Tak pernah memaksa
Atau membenci saat jauh
Cinta kan tetap indah
Meski tak lagi ada aku kamu
MENJAGA CINTA
Meski terus hati ini berharap
Aku mengerti engkau takkan kembali
Meski terus hati ini menunggu
Yang kau sayangi tetap bukanlah aku
Meski terus mengalun lagu rindu
Bukan lagi aku yg menghiasi mimpimu
Meski kutau smua hanya demi silaturahmi
Kan kujaga hati terus seperti begini
SELAMAT TINGGAL
Setelah sekian waktu ku jalani kehidupan ini seorang diri, akhirnya
kini aku mengerti bahwa bukan cinta lain yang kucari. Bukan sosok
seorang Hawa berbalut kosmetik dan estetik. Hanya sosok dirimu yang
penuh terbalut etik.
Meski kini kutau bahwa tak mungkin lagi kudapat meraihmu,
menggenggam jemarimu seperti waktu dulu, mencium keningmu, aku takkan
pernah jemu dan ragu untuk mencintaimu. Menyayangimu. Ku tahu dan
sadari bahwa dirimu bukanlah yang terbaik (di dunia ini), bukan pula
yang tercantik (di alam ini), tapi hanya dirimu lah yang mampu
membuatku menatap kehidupan jauh lebih baik.
Kau adalah penerang, bahkan di saat kini ku berjalan tanpamu di
kesendirian malam. Selamat berbahagia sayang… raihlah senyum indah
penuh pengharapan… Ijinkan aku simpan semua indah kenangan silam.
Selamat tinggal, menyakitkan memang, tapi apa ada kata-kata lain yang lebih bisa menjelaskan perasaanku saat ini. Dengan kata selamat tinggal, bukan berarti pertemuan kita sia-sia, ada sejuta impian yang tengah menunggu kita diluar sana, semoga kau menemukan apa yang kau cari selama ini.
BIDADARI
Kemarin aku melihat keindahan bidadari
Sepertinya aku telah jatuh cinta
Ketika kurasakan seluruh tubuhku kaku
Serta mataku yang tak pernah berhenti memandang keindahannya
Perasaan apa ini?
Sudah sering aku memandang keindahan tiap-tiap wanita
Namun tak pernah seperti aku memandang keindahan wajahmu
Sungguh engkau teramat indah
Jika waktuku nanti berakhir
Hanya wajahmu lah yang terakhir ingin kulihat
Walau aku tak sedikitpun tahu siapa namamu
RINDU
Rasanya begitu menyiksa
Setiap langkah terlukis wajahmu
Kadang hampir terlindas angan
Rasanya tak karuan
Gelisah dan tanya bersemayam
Melambung tinggi dikegelapan
Rasanya menyenangkan
Dilangit membias tawamu
Diranting pohon ada lambaianmu
Menghadirkan debar
Seolah-olah kau ada disini
Rasanya menyakitkan
Semua yang terasa hanya angan
Semua yang ada hanya khayalan
Sedangkan kau tak pernah tahu
Melelahkan !!!
TITIP
Aku titip hati ini, simpanlah !
Dengan kesetiaanmu
Kalau kau tabah
Aku pergi dulu
Mencari diri dibelantara waktu
Sambil mengeja makna arti dewasa
Aku titip mimpi ini, simpanlah !
Dalam kamarmu paling sunyi
Kalau kau betah
Pada saatnya aku akan kembali
Apabila ketika itu kau masih sendiri
Aku akan merasa gagah
PERGILAH
Sekali lagi kita duduk berhadapan dalam kesunyian
Setelah semua telah coba kita lakukan
Tapi lihatlah…
Itu tak cukup untuk menyatukan hati lagi
Kita bisa saja membuat jutaan janji
Tapi itu tak bisa merubah apapun
Atau membatalkan kata selamat tinggal yang terlanjur diucapkan
Juga kebersamaan kita yang tak lagi punya makna
Pergilah sekarang kalau kau ingin pergi
Karena tak ada sesuatu pun
Yang bisa menyatukan kita lagi
Walau harus kuberikan seluruh hatiku padamu
Kumohon, pergilah
Masih panjang jalan yang harus kita tempuh
Jangan memaksa untuk bertahan disisku
Jangan pura-pura tak tahu perbedaan kita
Walau aku tahu
Kita telah berjanji untuk bersama
Tapi setiap kita bersama
Kau hanya membawa luka
Lalu untuk apa ???
DOA MALAMKU
Tuhan….
Izinkanlah aku membuka hati
Dengan cinta yang aku miliki
Dan tolong jagai aku
Dengan ketidak tahuan yang ada
Tuhan….
Bila hati ini ingin mengenal cinta
Itulah yang aku kenal
Dekatkanlah aku dengan dirimu
Sebagaimana aku
Menjelajahi diriku sendiri
Karena aku tahu
Rasa cinta bukanlah suatu dosa
Tuhan….
Jika saja suara rintih ini masih bisa kau dengar
Tolong dengar doa malamku
Selubungi aku dengan ridhomu
Untuk menjalankan niat suciku
Tuhan….
Tolong jagai dia selagi aku jauh darinya
Tolong tuntun dia selagi lupa
Tolong ingatkan dia
Tentang seseorang yang ditinggalnya disini
Aku percayakan dirinya padamu
Aku percayakan padamu nafas dan fikirannya
Karena sebagai manusiapun aku tak punya daya
Tapi tolong….
Jangan pisahkan aku dari cintanya.
SEHARUSNYA
Seharusnya….
Sejak dulu aku mesti tahu
Bahwa kehadiranmu
Tak cuma mengusir kesendirianku
Ada hal lain yang kau tawarkan
Kegelisahan, ketakutan, kerinduan, cemburu
Semua bermain disekelilingku
Dimana kau sekarang
Setelah kau tawarkan sejuta rasa
Yang pada akhirnya
Harus kutebus dengan air mata
Seharusnya….
Sejak dulu aku tahu
Bahwa kehadiranmu
Cuma sebatas penasaranku
Hingga tanpa beban,
Kau pergi….
PUISI PAGI
Ada yang ingin kutulis pagi ini….
Semangat !
Ada yang ingin kubunuh pagi ini….
Dendam !
Ada yang ingin kucium pagi ini….
Kekasih !
Ada yang ingin kucintai pagi ini….
Hidup !
Ada yang ingin kusesali pagi ini….
Dusta !
Ada yang ingin kubuang pagi ini….
Luka !
Ada yang ingin kuingini pagi ini….
Bahkan ada yang lebih kuingini pagi ini….
Menebas keinginan itu sendiri !!!
PUISI RESAH
Jika matahari yang kulihat adalah terang
Maka terangnya belum menerangi seluruh isi ruangku
Jika bulan yang kulihat adalah cahaya
Maka keteduhannya belum memayungi seluruh resahku
Jika seluruh laut adalah samudera raksasa
Maka luasnya belum menampung kegelisahanku
Jika resahku belum berhenti
Keteduhan-Mu adalah pintu
Senyum-Mu adalah jendela
Dan aku ingin memasukinya ………
Memasuki istanamu
Perasaan ini ……
Haruskah kebingungan ini terus mendaki tebing-tebing waktu yang tak berujung ?
Haruskah perasaan ini menyusuri tepian-tepian luka?
Wahai laut, bumi, langit, udara, dan cahaya
Apakah ini adalah takdir, janji alam, atau ……
Hanya catatan waktu ……?
AKU DAN PENGEMBARA
Aku adalah pengembara
dalam ceritaku sendiri
meski bukan aku yang menentukan
jalan ceritanya
aku adalah pengembara,
bukan…,
bukan seperti dugaanmu
juga bukan seperti harapanku
meski aku menikmatinya.
SEDERHANA
Aku pernah ditanya orang tentang,… cinta
Seperti…
Matahari yang merindukan bulan
Sinarnya…
Menembus celah dedaunan,
Menyibak luka rerumputan,
Dan mengeringkannya.
Sepert i bulan,
yang dendangkan kesunyian
menenangkan fikiran
dan memantulkan cinta matahari
yang membara kepada bumi,
kepada makhluk – makhluk sunyi sepi.
Dan, bila tiba waktunya
Aku meminta…
Wahai…! matahari
Cintailah bulan dengan sederhana
Yang bila membara,
menghanguskan hati
seperti,…
siang yang menghunus belati
pada cinta sejati sang bumi.
Ya….,dengan sederhana,
seperti air dan udara
yang bersenyawa dihirup manusia
manabila udara bergembira, menjadi angin
lalu mengajak air menjadi gelombang.
Dan apabila bermasalah,
Mereka diam dan berbagi,
Pada hampa di dada para dewa dan penguasa.
Lalu …
Aku pernah ditanya orang tentang cinta…
Ternyata diri adalah cinta
Sederhana saja
Se sederhana cinta
Se sederhana Adam yang mencintai Siti Hawa
Yang mendiami tulang rusuk sebelah kiri
Tunggu saja…
DIBALIK KACA JENDELA KERETA BERGAYA EKONOMI
Satu – persatu.
Kaca jendela kusam
Ada juga yang terluka, dipandangi manusia.
Yang menjanjikannya keindahan.
Kaca jendela luka
Ada juga yang menderita, pelampiasan pusat ego manusia
Kaca jendela hancur
Lambang dari kebebasan yang menderita
Bagaimana dengan aku, kamu, juga
Kita semua menikmatinya
KONSPIRASI
Aku ungkapkan kepadamu
Tiga hal sekaligus
Aku adalah…
Seperti yang kau fikirkan
Tidak ada dalam fikiranmu
Dan tidak pula kedua nya
Itulah rahasianya
Ada apa dengan mu…?
MEMANDANG DENGAN HATI, MENIPU DENGAN MATA
Mulut adalah balatentara jiwa
Yang melontarkan caci maki bila kecewa,
Yang melantunkan pujian bila karena,
Dan diam yang bersahaja pun,
Bisa bermakna apa saja.
Sebut saja mata
Yang mempengaruhi gaya bicara
Tak perlu lagi makna
Untuk apa pula kosa kata
Yang membuat kepala menyusun kata – kata “ bahwa “
Janji adalah kumpulan maksud,
Ada,
Menjelang maksud
Dan tiada,
Berpendar menjadi cerita
Kenapa musti kecewa bila ada hikmahnya.
Mata melihat dan hati menilai
Melayangkan sifat hidup menjadi isi kepala
Dan kepala yang jadi raja !
Mengisahkan apa saja , kepada raga
Pada saat tunduk pada hati
Pasrah pada nurani
Lengkap sudah sang jiwa raga
ITU AKU BILA PERLU
Basuh wajah mu bila perlu
Biar sungai menemani peluh mu
Antarkan debu hingga raut sendu
Bersemanyam dalam hati yang meragu
Ujarmu larut terbawa angin
Menembus dinding penginapan ‘ wislah’
Pada ¾ malam yang dengan tekun
Mencatat setiap bayangan
Mata terpejam saat gundah
Hanya hati yang dapat mendengar
Dinding membacakan catatannya.
Jam dinding yang terpaku
Sejenak
Mendengar
Ujarmu
Jika sua
Dan satu persatu asa terbuka
Keikhlasan adalah menerima
Apa adanya…apa adanya
Semua diam, apa maksudnya
Sayang, Semua hanya bayangan
Yang dipenuhi benak cuma satu
Aku padamu adalah lingkaran
Yang dipenuhi harapan tapi satu
Yang di tumbuhi kenangan cuma satu
Yang ditikam kepalsuan hanya satu
Sebab,
Aku satu pada satu – satu
Buang wajahmu jika perlu
Biar dunia, menempa hati
Menancap langsung ke ulu
Memang hati,
Tak perlu kata – kata suci
Tak perlu lagi risau mencari
Dan enggan yang menjadi sejati
Itu aku bila perlu.
SUDAH, ATAU….
Di atas batu
Yang mengalir air sungai di bawahnya,
Aku bersimpuh
Dingin, sejuk, juga melupakan
Berapa banyak pertanyaan
Yang hanyut dalam buaian arus menuju laut.
Di gunung ini,
Sungai mengalir,
membawakan harapan – harapan
dan tak pernah perduli,
akan kandas di telan zaman.
Dan ikan – ikan
Yang sudah tak mendapatkan harapan
Dan tak mampu mendaki,
Hanya berputar,
Monoton,
Harapannya menghampiri dengan sekarat,
Bebannya penuh limbah dan kotoran,
Ma’afkan bila tak mampu menolak,
beban limbah dan kotoran
Daun yang berguguran,
menghirup tembaga
menghisap dan membunuh.
Sudah semestinya atau semestinya sudah
RAHASIA
Menulislah,
Sebab, ia akan membuatmu
Diam
Dan mendengarkan dengan seksama
suara – suara tanpa gerak bibir
terpendam menjadi harta karun
biarkan, ia yang menuntun
melihat tanpa memandang
menikmati degup jantung
lalu dengarkan suaranya
“ ini rahasia kita berdua “
Diam dan menulislah
Sebab, ia akan membimbingmu
Menjadi apa saja
Semaumu
Sesukamu
Membiarkan jati diri menhampiri
Dan memastikan semua arti.
Kemudian,
Jadilah apa saja
Hingga kita tahu
Kalau kita bukan apa – apa
Bukan siapa – siapa
Tapi juga jangan,
Tidak melakukan apa – apa
Bila kesombongan diri
Meraja dan me na’if kan apa saja
Menulislah…
Bila kau dan aku
Tahu…
“ ini rahasia kita berdua “
GILA BILA
Bila harus memukul
Pukulah dengan keras
Tapi juga seperti
Pada dawai – dawai gitar usang
yang menghasilkan nada menyajikan irama
apapun hasilnya
pasti ada yang suka
bila harus menampar
tamparlah dengan keras
tapi juga seperti
pada kanvas dan kertas di sudut meja
yang memadukan warna memantulkan cahaya
apapun hasilnya
hidup lebih berwarna
bila harus menyayat
sayatlah sekuat tenaga
tapi juga seperti
pena yang menggores kertas lama
walaupun terluka
tetap menghasilkan cerita
Namun bila…
Tak ada lagi bila
gunakan perasaan mu
Biar tidak di bilang gila
SAMA SAJA
Kemarin aku bertemu orang gila
Lalu kutanyakan padanya
Siapa aku
Bagaimana aku, menurutmu
Sebutlah satu – persatu
Seperti berfikir, dia tertawa
Di berinya aku, kaca, kursi, sisir, dan mainan lainnya.
Kemudian di ambilnya gendang
Di tabuhnya “ dung…dung…dung…”
Tanpa sadar aku turut didalamnya
Hingga ramai orang bersorak
“ Sarimin pergi ke pasar “
aku diam, marah, benci, suka, sekaligus bingung
hingga aku dapatkan ia dalam kata – kata
“ memangnya aku siapa, berhak menilaimu siapa “
seandainya….
terlintas dalam jiwa
“ ini perasaan terlengkap yang aku punya dalam sekejap mata, mungkin !”
aku mungkin tak jadi menghajarnya
yang tertawa – tawa
sambil berkata
“ ada lagi orang yang gila”
yang pergi tanpa janji
seperti tak punya hati
KAMU TAHU APA ?
Yang muda mengoyak luka bangsa
Pada orang tua, terhadap yang teraniaya
Kayuh dayung itu,
Biarkan ombak menghampiri
Gelombang menelan sekalipun
Muda akan tetap muda
Sampai menggapai masa depan
Seperti apa…
Bukan haknya menelan kezaliman
Dan mewariskan prasangka
Sedang dalamnya duka
Pada kita yang terlalu memiliki
Pada apa yang bukan dimiliki
Adalah orang tua, yang terlalu berkuasa
Dengan hati yang korup
Dan fikiran yang meramu surga dunia
Mereka berkata
“ kamu tahu apa “
DATANG MENCARIMU
Datanglah
berikan jemarimu padaku
biar ku genggam
juga duka mu
biar kubuang
dalam perjalananku
mencarimu
Kudapatkan kamu,
Walau tidak mengenal waktu
Ini adalah pertarungan.
Perang yang belum pernah ku jalani
Walau dalam semua mitos
Sama saja…
Sialnya,
Tak ada bayangan kalah
Dengan modal keberuntungan
Dan bersenjatakan waktu
Kubagikan kartu, seperti dalam domino
Saling menduga kartu
Kalau tidak ada yang lewat
Yang pertama jalanlah, yang menang
Bagusnya,
Aku yang jalan pertama
Buruknya,
Aku tidak tahu, kartu mana terlebih dahulu.
Supaya kau tidak lewat
Dan menyambung kartuku
Maka kudapatkan kamu,
Walau tidak mengenal waktu.
Andai kata
Kita tidak mengenal janji
Maka tidak akan ada lagi yang bisa terlewati
BOSAN
Semakin tanpa arah
atau dengan arah sekalipun,
hidup bisa saja membosankan
MAMPU
Penasaran adalah
pintu gerbang pertanyaanku
dalam perjalanannya mencari cinta.
Jangan diteruskan bila berliku…
Sebab,
kesana aku menuju
Namun,
bila kau mampu
Dan sanggup menerimaku
Berilah aku waktu
Untuk
memburu mu
Mendapatkan cinta, waktu, dan hidup mu
Itu pun bila aku mampu !!!
GALAU
Ikutlah denganku
Tuk, ringankan bebanmu
Jangan terus berlari
Hadapi…
Hadapi…
Bangkit dan berdiri
Kaulah yang akan menjadi diri sendiri
Dalam benang merah
Perjalanan suci yang mandiri
Yang bila terjadi
Aku ingin sekali…
Menyertai…
Tanpa tapi.
USIA BARU DALAM LEMBAR AIR MATA.
Dengan di iringi do’a - do’a
Yang berkejaran meminang harapan
Dalam kata pengantar
Lalu, mengapa
Ada dosa dalam
Daftar isi, halaman pertama
Aku diam bersandar
Menguatkan…
“ Allahu Akbar “
Lembar pertama halaman air mata
aku adalah bunga perasaan
yang besar dan berjalan dengan perasaan
bila warnanya bersinar dan aromanya merebak
itu juga karena perasaan
tapi coba perhatikan
duri pada tangkai
perhatikan…
dia tajam dan bertahan
diri tak pernah memainkan perasaan
apalagi menyakitkan…bila kau
perhatikan…
aku sandarkan diamku dalam fikiran
“ bunga perasaan,
yang tumbuh diantara yang terlalu berperasaan. “
apakah kau sanggup bertahan.
Ku teruskan…
Bilakah tiba – tiba air mata membelah wajah ?
Aku diam memandang kalimat
“ bungaku…pada malam yang tak berperasaan”
aku diam bersandar
menguatkan…
“ Allahu Akbar… “
DIALOG SEPASANG MATA PADA SUATU KETIKA
“Harus bagaimana aku, untuk membujuk mu”
tinggalah untuk sepenggal malam,
hingga pagi menjelang,
lalu pergilah, walau hanya sepenggal malam.
Dan bila malam datang
Aku ingin…
Menikmati…
Mata liarmu yang mencuri, memiliki
Hingga jatuh meluruh, saat ku pergoki.
Aku tahu kau malu.
Pada tanah tempat matamu jatuh luruh,
Aku berdo’a akan kekagumanku padamu
Menahan malu…sungguh
Semoga kau tahu
Akupun malu.
“ baiklah, aku tinggal “
hanya untuk sepenggal malam
Bukan aku merayu
Hanya tak sanggup menahan malu
Hingga pagi menjelang.
Dan bila malam datang,
Aku tak sanggup menahan
Mata yang mulai mencuri, memiliki…
Lalu kita bercinta dalam hati.
Jangan salahkan aku,
Pada tanah tempat mata menyerah pasrah.
Baru aku mengerti…
“ mengapa kau biarkan aku malu “
jika kau menikmati kita bercinta dalam hati.
Semoga kau tahu kalau akupun tahu
“ karena esok tak’kan lagi “
hingga pagi menjelang
sepasang mata itu !
tak sanggup lagi memandang
JANJI SEPASANG MATA PADA SUATU KETIKA
Bila sepenggal malam itu terjadi
aku ingin memintamu,
setengah mati
menikmati saat detik terhenti,
menanam dalam hati menjadikannya abadi.
Detik yang terhenti
Saat bercinta dalam hati
Biarlah mati dalam rahasia abadi
Hanya untuk sepasang mata
Yang tak percaya
Pada cinta sejati
Bangkai
Aku juga seperti kau
Yang hanya segumpal daging
Bila jiwa tak bersenyawa
dengan Ruh yang menyeluruh
juga tanpa hati,
yang mengetarkan segalanya.
Mungkin
Kita Cuma
Bangkai yang rapuh
PEMBEBASAN
Cinta yang bersemayam,
Dalam kelopak mata logika,
Yang di dalamnya…
Mengalir…
Madu dalam kerangka fikiran
Seru menderu
“ Sekuat apa perasaan dapat bertahan “
Bila pondasinya jauh dari logika
Bila fikirannya jauh dari akal
Seperti,…cendrawasih
yang menebarkan cinta di kandang emas,
menggetarkan jiwa, namun,
dalam hati ia berkata :
“ Tuanku,… berilah ma’af pada matamu”
bila cinta yang kau kenang datang,
bila kedewasaan datang melamar,
aku pasti sudah menjadi milik kebebasan
sementara….
rajawali…
yang bersetubuh dengan kenyataan
menikmati kebebasan,
mendendangkan syair padang ilalang
baru mengaku…
cinta itu inti keterbatasan
pada perasaan yang tidak wajar
tanpa ada penjelasan
dimana makna kebebasan…
jika tak ada batas yang harus dilanggar
lalu ia terbang…
mencari cinta di perbatasan.
Dalam hitungan waktu
Ia memburu
“ Siapa pemilik cinta yang membebaskan“
Hingga saatnya bertemu, ia merayu
“ Jadilah batas, dalam kebebasan ku
Agar sempurna,
Saat kupersembahkan
Untuk mu “
SIAPA
Dimana, mencari orang yang lupa akan rasa lapar,
dan menyerahkan diri, pada langit kelam
yang keringatnya, mengajak tubuh,
menantang matahari untuk sama – sama memberi.
Yang sambil menunduk,
Membiarkan…
Rerumputan merendahkan hatinya.
Yang terus mendaki walau patah,
Membiarkan…
Gunung membesarkan jiwanya,
Mendengarkan angin
Menceritakan…
Petualangannya.
Kemudian dengan pelan, dia berkata :
“ Aku bukan apa – apa, bukan siapa – siapa .”
namun,…
dalam hunusan pedang yang berapi membelah lautan.
Tegar menetap…
Diri adalah musuh utama
Tak usai dengan badai,
Tak pernah lunas dengan halilintar
Dan kalau bertemu,
Akan kutanyakan
“ Mengapa merusak fikiranku “
PUISI 9 KATA
Hidup adalah puisi
Walau menjadi diri
Dalam pertarungan nurani
PRAKATA
Hitam putihnya hidup
Bukan untuk disesali
Tapi untuk diyakini
Tanpa lebih menghitam putih kan nya
MUKADIMAH
Semua puisi, syair, atau kata-kata yang tertulis disini adalah sebuah kisah yang mungkin masih punya makna, catatan hati dariku untuk seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupku, ini hanya sebuah kisah yang aku rasa cukup perlu untuk kutulis dan disimak. Dan ini adalah kejujuran, entah asalnya dari mana, tak ada yang harus tidak dipercaya, kalaupun ada mungkin cuma ungkapan-ungkapan yang aku sendiri tidak tahu artinya.
Kisah ini kutulis untuk kamu, bukan untuk mengumbar perasaan atau kata-kata, juga bukan untuk membuatmu merasa menang atau bersalah. Aku hanya ingin kau bisa belajar untuk menghargai sebuah hati yang mungkin tak pernah kau mengerti atau kau sadari, dan hati itu adalah.. … hatiku!
Sebelum kumulai kisah ini, ingin aku ingatkan padamu, bahwa cerita ini tak akan pernah ada dan tak akan pernah aku mulai kalau bukan aku sendiri yang mengalaminya, ketika pertama kali aku bertemu kamu, pertama kali aku mengenal kamu, mungkin kau pun tahu setelah pertemuan itu semua berjalan dengan menyenangkan, sebab kita yang mengalaminya.
“Kau tak perlu mengingat seluruhnya tak ada yang perlu dijadikan kenangan waktu itu, sekarang aku tak akan bicara apa-apa lagi, tak perlu, semua terungkap disini kau tak perlu bertanya lagi, sebab kau tak akan dapat apa-apa dari mulutku, semua sudah terangkum disini, mungkin tanyamu akan terjawab setelah kau baca buku ini, tak ada yang perlu kukatakan lagi kan ?”
Sekali lagi, semua yang baca kisah ini, jangan pernah ambil kesimpulan yang nantinya akan malah menyakitkan.
Seperti yang acapkali kita jelang dan datangnya justru pada saat kita baru saja tenggelam dalam kebahagiaan semu dan selalu saja datang terlambat, ialah seperti sebuah kesadaran yang akhirnya memaksa kita untuk menyesali nya.
Entah,… berapa kali itu terjadi pada hidup seseorang, sebenarnya kalau kita ingin lebih memahami, kita jangan terlalu memikirkan waktu yang telah lewat, namun mengapa seseorang harus terluka kalau hanya untuk memperbaiki sesuatu yang salah. Ada satu kehidupan dimana seseorang harus belajar dari kesalahan dan berbuat lebih baik dari pada harus melakukan kesalahan yang sama.
Simaklah, siapapun tak ada yang memaksa untuk membaca buku ini, sipapapun tak ada yang meminta untuk menyimpan kisah ini, hanya saja ini adalah kisah-mu, aku, dan cinta yang tak berwarna.
Dian Alamanda
SETELAH BERLALU
Entah mengapa selalu saja ada sesuatu tentang mu yang selalu ingin kutulis disini, walau kutahu sudah tak perlu lagi, namun mengapa selalu saja ada yang ingin kutulis walau hanya sepenggal kisah yang sama sekali tak menarik.
Entah mengapa ada rasa sakit disini, setelah malam-malam terlewati tanpa mu, namun aku hanya bisa terpaku diam dan menyesal menantimu, bersama berlalunya malam kubunuh mati mimpi-mimpi biar tak tersisa lagi luka hati yang menyakitkan.
Seharusnya memang tak harus kubiarkan kau memporak-porandakan keangkuhanku, me-nginjak-injak puing istana ketegaranku dan men-cabik-cabik pintu hatiku, seharusnya memang tak harus kubiarkan kalau pada akhirnya harus kutata lagi dari awal setelah kau meninggalkanku dengan ketidak pedulian.
Betapa sulitnya kubangun semua itu dengan susah payah, dengan bara kebencian, dengan luka hati yang menganga yang kujadikan satu menjadi suatu keangkuhan, kau tak tahu, betapa indahnya istana ketegaranku yang kudirikan dengan susah payah, betapa megahnya tugu keangkuhanku tanpa mimpi semu, atau omong kosong tentang cinta dan air mata.
Lalu tanpa kau sadari kau datang dan perlahan kau buat aku terombang-ambing dalam angan-angan tentangmu yang sebenarnya sangat menyakitkan, dan perlahan kau hancurkan semuanya hanya dengan sebuah senyum sesaat, memberiku asa yang indah, yang kini tak kutemui lagi, dan tak ingin kutemui lagi.
CINTA TANPA RESTU
Mengapa orang dewasa bisa bertindak sekejam itu?, kenapa dengan kedewasaan yang selalu mereka agungkan itu mereka tidak bisa memahami dirinya?, seolah-olah mereka sengaja menciptakan sebuah tembok tinggi bahkan lebih tinggi dari pada tembok penjara yang kerap membatasi anak-anak mereka yang sedang dilanda cinta dengan orang dewasa, dan kian hari tembok pemisah itu kian tebal, seperti benteng yang mengukung kita dalam masa topan dan badai yang tidak menentu ini.
Seandainya saja orang-orang dewasa diluar sana itu lebih mau mengerti, seandainya mereka mau membuat sebuah lubang kecil pada tembok yang tebal itu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu anak-anak mereka melewati masa yang sulit ini
Matahari seperti terlihat lelah, sebentar ia sembunyi di balik awan, kemudian menghilang di balik gunung. Dan bulan yang seperti terpaksa, muncul menggantikannya.
senja, saat kuinjakan kaki di atas rel kereta stasiun kota kecil ini. Ransel kecil yang kusandang bersandar pasrah di bahu, begitu banyak kenangan padanya.
Pelan, dibisikannya padaku,
“akankah kau beri sesuatu padaku,”
“ cerita apalagi, yang akan kau letakkan di sisi kantong kecil ini, sedang melihat kota kecil yang sombong ini saja aku merasa seperti akan terluka, tapi,… tak apa bila luka itu membuat kita semakin dewasa.”
Ah…..Ransel kecilku, bukankah kita berjanji menjadi cerita, dan bukan menebaknya. Kutepuk debu dibawahnya, kuajak ia melangkah.
Lampu – lampu jalanan yang tak mampu menggertakku, membiarkanku memasuki lorong – lorong sunyi sepi.
Hatiku sepi, hingga sepasang mata mengawasi. Seperti hendak mengatakan sesuatu. Matanya memandangku, menangkapku, juga seperti tak berdaya. Seperti terpana kubaca pandangannya :
“ Mengapa mencariku “
kupejamkan mataku, panjatkan syukur pada sepasang mata itu. Kubalas tatapannya
“ Apakah kau tahu, aku lah yang mencarimu. Pada titik sepi.”
Dia diam seperti ragu ,
“ Bilakah kau benar mencariku ?”
Seperti hendak berlalu diraihnya tanganku, diajaknya aku dalam pelariannya. Sendiri.?
Daun – daun yang berguguran, ranting kering angsana, pada jalanan yang berdebu, berbaris gelisah seperti menunggu saat yang tepat untuk menceritakan segala sesuatunya, padaku,…ya, padaku.
Aku diam saja dan terus berjalan dibelakangnya, tanpa peduli. Hingga terasa makin erat pelukan ranselku, seakan ia hafal dengan kejadian ini, yang gelisah dan mulai berbisik
“ ini seperti perjalanan waktu lalu, yang belum pernah berhasil kita lewati, bias, samar dan hilang begitu saja. Hingga membuatmu tenggelam dalam bayang – bayang masa depan saja yang kau kejar, namun kau lupakan hari ini. Lupa diri sendiri.”
Badannya mulai basah oleh peluh tubuh, dengan pelan kuangkat naik ke bahu, ma’afkan aku,
“ ber do’a lah atas akhir dari pencarian kita, semoga ini cerita sebenarnya.” Ranselku mengiyakan seraya menyiapkan pena dan buku dalam hatinya.
Malam di bantu awan gelap seperti mencekik rembulan, mereka berharap bulan dapat menjaga rahasia.
Hanya angin yang bebas berkeliaran, saat langkahnya terhenti pada kuburan perasaan.
Dihadapanku, dipandanginya mataku dengan lautan pertanyaan, pelan dan mematikan,:
“ Bagaimana denganmu, apakah kau mengerti jika aku mengajakmu dalam pelarianku, memahami para korbanku, yang terbujur kaku dikuburan perasaan ini, masihkah kau mencariku ?”.
kusimpulkan dengan senyum, tanpa memberitahu, kalau akupun begitu, seperti kata bulan, bintang, matahari, dan sekalian sahabatku. yang sampai detik ini belum dapat kupahami masalah dan duduk persoalannya, aku hanya pejalan kaki yang mencoba berjalan dengan kata hati. Lalu kuraih bayangannya, kuajak ia mencari tahu.
Pada malam saat burung – burung pulang kesarang, saat duka terlihat samar, saat orang sibuk dengan fikirannya masing – masing, kaupun menanyakan keadaanku :
“ bagaimana kau terlalu mencariku ?”
Jangan dijawab !, ransel kecilku mengingatkanku akan masa lalu, kemudian terlihat sangat takut saat ku jawab pertanyaanmu tanpa air muka,
“ Pada masa lalumu, aku tak mau tahu, Apakah kau tak tahu, aku mencarimu, kemana – mana, pada siapa – siapa, terutama pada titik sepi. “
Aku adalah satu pada satu – satu, keinginan ku cuma satu, “ Mencarimu” tanpa dua kali mengucapkannya
Lalu mengapa kau masih ragu, sedang kau pun sering begitu. Ku rangkul ransel kecil disampingku, lelah yang amat sangat begitu terasa pada pegangannya. Ku usapkan perasaan, padanya kubisikan sesuatu
“ jalan kita masih panjang, bukankah kita sudah terbiasa, dan apapun yang terjadi, ini hanyalah perjalanan”
“ aku mengerti “ ranselku pun mulai sembunyi.
Kini ganti kupandangi kau yang di balut ragu, dan kemauanmu. Akupun bersandar pada pendirianku.:
“ Kau…tak perlu mau, aku hanya ingin ‘mencarimu’ tapi juga tak pernah ingin memaksamu, Itu aku jika perlu. “
Kemudian kuangkat ransel kecilku, ku tepuk debu dibawahnya, ku ajak ia melangkah.
Waktu berlalu, memaksaku merapikan semua kenanganku padamu, cuma satu. Bila aku sudah terbiasa, maka semua seperti biasa saja…..
Hingga malam yang gamang, menyampaikan kegalauannya padaku, dengan enggan dia berkata :
“ kekasihmu, tenggelam dalam lautan air mata, kini terkapar dipantai tempat di mana ia mempertanyakan segalanya.”
Dan aku yang tergetar, lemas bersimpuh “ Allahu Akbar “, ingin rasanya kuhajar malam yang pucat pasi saat ku maki :
“ Mengapa harus dia “
“ Kenapa kau tak bunuh aku, yang takut memperjuangkan keinginanku, padanya, dalam mengakhiri pencarianku”
“ dan “
“ kenapa pula harus dia, yang sedang kacau dengan perasaannya.”
“ dan kau juga, “malam” mengapa kau menemaninya dengan kalimat cinta, yang hanya dimiliki para dewata. “
“ kalau kau inginkan aku, bukankah aku sudah tenggelam dalam malammu. Atau haruskah ku adukan kelakuanmu pada kesombongan matahari, hingga membuatku menancapkan belati, pada ketidak berdayaanku yang tinggal satu.”
“Atau,…entahlah.” aku tak berani membayangkan dirimu yang hilang, patah dan tak berdaya.
Hingga pagi menjelang, menghentikan sumpah serapahku pada malam. Aku berdiri.
Kupandangi ransel kecilku. Ma’afkan, aku tak sanggup menunggu usainya jalan cerita.
Hingga kau temukan aku dalam perjalananmu
Berikanlah aku waktu
Untuk memburumu
Mendapatkan Ilmu, Waktu dan Hidupku
Itupun bila kau mau
Dan bila aku mampu
Kemudian kuangkat ransel kecilku,
kutepuk debu dibawahnya.
Ku ajak ia melangkah.
Meninggalkan kota kecil yang sombong ini.