<

Terima kasih, ya Allah. Hari ini Kauantarkan aku pada Ramadhan kembali. Kaucukupkan usia aku untuk dapat memasuki hari-hari penuh kemuliaan lagi. Apakah aku pantas mendustakan kenikmatan yang Kaulimpahkan itu?

Bulan telah menggaris. Tanda kekuasaan-Mu telah benderang di persada bumi. Kini, tinggal bagaimana aku hendak menyambut. Apakah aku akan menyambutnya semata sebagai rutinitas ataukah dengan membentangkan tangan penuh antusias? Telepon genggam di tangan beberapa kali bergetar. SMS, atau pesan-pesan pendek, berdatangan. Isinya adalah ucapan-ucapan syukur atas kedatangan Ramadhan. Juga permohonan maaf atas segala salah yang mungkin terjadi. Para sahabat berharap dapat memasuki masa puasa secara lebih bersih.

Aku tersenyum. Hari-hari ini, tradisi baik Betawi itu memberi roh teknologi bernama Handphone ini. “Maafkan pula aku,” bisikku lirih. Frekuensi hatiku masih lebih banyak berada di lisan dibanding di SMS.

Sebelas bulan telah aku lampaui dengan manis getirnya. Sebuah waktu yang singkat, namun lebih banyak aku sia-siakan. Waktu yang semestinya lebih banyak aku isi dengan peneguhan iman, dengan amal saleh, juga dengan saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran. Kenyataannya, waktu itu lebih banyak aku isi dengan yang lain yang membuat aku menjadi para manusia yang –dalam Firman-Mu– “merugi”.

Terima kasih, ya Allah. Sebelas bulan itu tidak Kaulanjutkan begitu saja. Sebelas bulan itu Kauhentikan sejenak untuk memberi ruang pada Ramadhan. Kau sisipkan sebuah waktu khusus bagi aku untuk membersihkan diri kembali. Pembersihan yang akan menghapus stempel “merugi” dari kening aku.

Ramadhan akan meluruhkan seluruh daki dari setiap inci hati dan benak aku. Ramadhan akan memercikkan penyegar yang meresap ke setiap pori tubuh aku. Maka, melalui Ramadhan ini, perkenankanlah agar aku dapat kembali saling menautkan hati. Terutama aku yang mengharap ridha-Mu, juga aku saudara sebangsa ini, bahkan aku seluruh umat manusia ciptaan-Mu, ya Rabbi.

Hati jernih akan berpaut mengukir kata “damai”. Ukiran “damai” itu akan mengapung menjadi awan yang menaungi seluruh bumi. Perkenankan sang awan damai menaungi Aceh dan seluruh putra-putranya. Juga menaungi para pengungsi dan kaum tergusur yang bertebaran di negeri ini. Limpahkan pula damai untuk anak-anak negeri Kalimantan, Poso, Maluku, dan Irian.

Melalui Ramadhan ini, banjiri bumi Afghanistan dengan damai-Mu. Pertautkan hati seluruh kaum Pashtun, Tajik, Uzbek, Hazara agar dapat membangun negeri sendiri yang berkah tanpa campur tangan yang lain. Limpahi pula tanah Palestina, Chechen, Kashmir, Moro, hingga Pakistan, Aljazair, dan Siprus Utara dengan damai
Ramadhan. Engkau maha pemberi perkenan ya Allah. Perkenankanlah para pemimpin bangsa ini bersatu hati agar dapat memjadikan negeri ini negeri penuh berkah. Limpahi para pemimpin dunia hidayah-Mu.

Yaa… Allah maafkan semua salah dan keliruku. Maafkan segala kekurangtakzimanku, termasuk dalam me­ng­i­rim SMS Ramadhan ini. Kau tahu, aku ingin Ramadhan ini menjadi Ramadhan terbaik dalam hidupku hingga kini. Perkenankanlah.

Ya ayuhallazina ammanuqutiba alaikkummusyiam
Kammakutiba allaladzina minqoblikum
La’allakum tattakun….!!!

Hai orang-orang yang beriman
Diwajibkan atas kamu berpuasa
Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu
Agar engkau bertakwa !!!

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA 1429 H

August 21st, 2008 at 6:05 am