EVERYTHING ABOUT KISS
Dosen Fisika:
Ciuman adalah gaya tarik menarik antara dua mulut dimana jarak antara satu titik dengan titik yang lain adalah nol.
Dosen Kimia:
Ciuman adalah reaksi akibat interaksi dari senyawa yang dikeluarkan oleh dua hati.
Dosen Mikrobiologi:
Ciuman adalah pertukaran bakteri uniseksual di dalam air liur.
Dosen Biologi:
Ciuman adalah menyatunya dua otot orbicularisoris dalam keadaan kontraksi.
Dosen Ekonomi:
Ciuman adalah sesuatu di mana permintaan lebih besar drpd penawaran.
Dosen Statistik:
Ciuman adalah kejadian yang peluangnya bisa sangat tergantung dari angka statistik berikut:36-24- 36.
Dosen Teknik:
Ciuman? Apa itu..?
Dosen Elektro:
Ciuman Adalah bertemu antara ion positif dan negatif yang mengakibatkan arus lemah menjadi arus kuat…
Dosen Kedokteran:
Ciuman adalah proses pendiaknosaaan fisik secara langsung yang berakibakan aliran darah ke organ reproduksi meningkat
Dosen Psikologi:
Ciuman adalah proses penjiwaan terhadap pola pikir seseorang untuk mengetahui akan kenikmatan.. ..
Dosen Program Komputer:
If kiss >= Hot then go to bed room else go to bathroom end.
Dosen Seni :
Ciuman adalah sesuatu yang indah bila dinikmati bersama
Ciuman menurut Guru Olahraga :
jika berciuman berkategori sangat hot,sama besar dengan kalori yang terbuang untuk berjalan tergopoh-gopoh (brisk walking)
Dosen Politik (Ilmu Transformasi Konflik):
ciuman adalah kemampuan untuk mentransformasi gesekan-gesekan konflik dari dua kelompok berbeda sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang positif (win win solution: "semua senang,semua nyaman..semua melayang)
Dosen Matematika(Teori Kemungkinan) :
Ciuman itu gambling, sekarang nyium Tinggal tunggu balasannya, digampar ato dibalas cium…
Dosen Olahraga (again) :
Ciuman adalah suatu peregangan & pemanasan untuk "olahraga" yang lebih berat….
Dosen Kewiraan :
Ciuman adalah hak yang dimiliki oleh seorang pasangan yang hubungannya telah diakui oleh negara berdasarkan hukum dan undang-undang yang berlaku.
Dosen Bahasa :
Ciuman adalah berasal dari sebuah kata dasar "cium" yang mendapatkan akhiran "an".
Dosen Seksiologi :
Ciuman adalah suatu teknik rangsangan dan pemanasan (foreplay) dimana tahapan ini menyentuh titik titik rangsangan di seluruh tubuh…
Menurut anaknya dosen :
Ciuman adalah temannya ciunyil, ciucrit, ciusrok. bisa juga berarti sudah sadar dari pingsan.
———————————————————————————
ADA APA DENGAN VALENTIN’s DAY ?
Pada bulan Februari, kita selalu menyaksikan media massa, mal-mal,
pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja
dengan menggelar pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga
larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada
satu hal yaitu Valentine’s Day. Biasanya mereka saling mengucapkan
"selamat hari Valentine", berkirim kartu dan bunga, saling bertukar
pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta karena anggapan
saat itu adalah “hari kasih sayang”. Benarkah demikian?
Sejarah Valentine’s Day
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day :
“Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other
experts connect the event with one or more saints of the early
Christian church. Still others link it with an old English belief that
birds choose their mates on February 14. Valentine’s Day probably came
from a combination of all three of those sources–plus the belief that
spring is a time for lovers.”
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi
Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi
cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para
pemuda mengundi nama –nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda
mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi
pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada
15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan
srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit
binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu
akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini
dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti
nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara
pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The
Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih
mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I
menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan
nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang
kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia
1998).
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan
ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya
dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak
pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan
kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap
sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan
memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa
Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi
Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan
doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara
muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada
orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah,
namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda
sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M
(lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).
Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan
langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans
dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang
St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di
Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya
dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia
Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).
Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam
artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org)
mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang
Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan
kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau
tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my
Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan
(karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya
pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, yang
artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti:
the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the
hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga
diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!
Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya, yang
seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik,
penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada
kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut
Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau
hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?
Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita -remaja
putra-putri Islam- yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya
Barat dan acara ritual agama lain. Padahal Allah Subhannahu wa Ta’ala
berfirman yang artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya
akan diminta pertangggungjawabannya” (Al Isra’ : 36).
Hukum Merayakan Hari Valentine
imageKeinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan
tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang
diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya.
Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan
kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam telah melarang
untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam:
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).
Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine
maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak
bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang
besar. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Memberi selamat
atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati
bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya
dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan
sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada
kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Karena berarti
ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah.
Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih
dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau
membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam
suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti
orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat,
bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan
kemarahan dan kemurkaan Allah.”
Abu Waqid Radhiallaahu anhu
meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saat keluar
menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang
musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka
menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat
Rasulullah berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu
Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti
yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana
mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya,
sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum
kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan :
“Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena:
Pertama: ia merupakan hari raya bid‘ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari‘at Islam.
Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan
seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih
(pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal
melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum,
berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap
muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak
mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum
muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang
tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.”
Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat
syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin
dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang
dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan
membenci dan menyelisihi (membedakan diri dengan) orang-orang kafir
dalam ibadah dan perilaku.
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan
ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak
buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak
jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang
muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang
dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7)
Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan
orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka
yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat
itu dengan sukarela. Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap
gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan
kecintaan dan keterikatan hati.
Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka
adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah:51)
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan
hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)
Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan
mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan
makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.
Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan
ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai
ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan
pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan
mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.
Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi
lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang
batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat
ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.
Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu
semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di
antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan
yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya
dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst,
tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh
orang-orang kafir.
Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala senantiasa menjadikan hidup kita
penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi
jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan
bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita
saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada
saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita.
——————————————————————————————————
SELINGKUH
Mungkin,
godaan untuk selingkuh hanya datang sesaat akibat rasa jenuh dan penuh
tekanan dalam pekerjaan dan pasangan kita. Biasanya rasa sesal akibat
berselingkuh baru muncul belakangan, yaitu ketika menyadari bahwa
kejujuran dan komitmen merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan.
Perselingkuhan secara emosi atau perselingkuhan yang tidak disengaja, mempunyai pengaruh besar terhadap seseorang.
Mungkin pada awalnya kita hanya berpikir hubungan ini sebatas pada
persahabatan. Tetapi ketergantungan emosi di antara kita dan
ketidakterusterangan kita pada pasangan merupakan awal dari suatu
pengkhianatan terhadap pasangan kita masing-masing.
Kebanyakan perselingkuhan emosional terjadi karena hubungan yang
intensif dan sering bertemu. Berdasarkan hasil penelitian, lebih dari
separuh pertemanan berkembang menjadi hubungan yang lebih dari sekadar
sahabat. Misalnya antara sesama kolega yang saling curhat mengenai
pekerjaan maupun masalah pribadi.
Semakin tergoda
Batasan perselingkuhan memang amatlah tipis. Bahkan, tidak adanya
sentuhan bukan berarti tidak terjadi perselingkuhan. Meskipun banyak
orang berpendapat sejauh tidak berhubungan seks, tidak ada yang salah,
kenyataannya para ahli mengatakan, kesalahannya sangat banyak.
Tidak penting apakah hubungan tersebut akan menjadi lebih parah atau
tidak, tetapi yang pasti dan jelas, kita sudah berbohong kepada
pasangan. Dan kebohongan tersebut akan berlanjut dari satu kebohongan
ke kebohongan-kebohongan lainnya.
Hal ini sebenarnya
merupakan bahaya yang tidak kelihatan dan tidak disadari. Semakin kita
merasa aman-aman saja, hubungan kita berpotensi untuk semakin jauh, dan
kita semakin berusaha untuk menutupinya. Kita semakin tergantung pada
orang ketiga tersebut dan tanpa disadari hal ini menjauhkan kita pada
pasangan.
Bagaimana mengetahui bahwa rasa tertarik ini
merupakan perselingkuhan yang membahayakan atau tidak? Cara yang tepat
untuk mengetahuinya adalah bila kita menyembunyikan rasa ketertarikan
pada orang lain ini dari pasangan.
Contoh: Bila
kita makan siang dengan orang ketiga tersebut dan tidak menceritakannya
pada pasangan kita lalu sesudah pertemuan tersebut pikiran kita tidak
pernah lepas darinya, itu tandanya kita tertarik pada orang tersebut
secara emosional.
Percuma saja kita mengatakan punya
seorang kekasih, karena nyatanya, toh, kita mau pergi berkencan dengan
orang lain. Padahal kita berdua sadar, hal tersebut tidak dibenarkan.
Tetapi justru dengan melakukannya secara sembunyi-sembunyi, membuat
kita berdua semakin bergairah dan tergoda untuk melakukannya. Lagi dan
lagi.
Tentu saja kita tidak akan menceritakannya pada
pasangan. Padahal, bila kita mengetahui pasangan kita yang melakukan
hal tersebut, kita pasti tidak akan bisa menerimanya.
Bila berada di tingkatan "berhati-hati", artinya kita sebetulnya masih
mencintai pasangan, hanya saja kita sedang tertarik pada orang lain.
Nah, kita masih dapat dan harus memberi batasan.
Bila
tergoda, akui pada diri sendiri bahwa kita memang tergoda dan biarkan
perasaan tersebut untuk beberapa waktu sampai akhirnya hilang dengan
sendirinya. Akhirnya, kita berdua dapat menjadi sahabat sejati dan
bahkan "teman" kita pun menjadi sahabat dari pasangan.
Jika
telah melampui batas, terbenam dalam perselingkuhan tetapi telah
terikat dengan seseorang, kita masih bisa berusaha memperbaiki hubungan
dengan pasangan. Biasanya, sesudah melewati perselingkuhan untuk
beberapa lama, akhirnya orang-orang yang berselingkuh ingin kembali
kepada pasangannya.
Mengatasi masalah ketidaksetiaan bukan
sekadar mengenai mengapa hal ini bisa terjadi, tetapi lebih kepada
bagaimana kita menyikapinya. Kita harus memutuskan, apakah
perselingkuhan ini akan menghancurkan hubungan dengan pasangan, atau
justru perselingkuhan ini akan mengokohkan hubungan berdua?