<

Untuk sayangku Ade….

Mungkin ini pertama kalinya aku nulis surat ini buat kamu, semenjak kita ketemu, aku ga pernah kan ngasih surat ke kamu ?
Sebelum aku putuskan untuk menulis surat ini, setiap saat senggang aku habiskan untuk berfikir dan menimbang – nimbang apakah yang aku lakukan ini benar atau salah.
De… kamu adalah orang pertama yang ngajarin aku sesuatu yang ga pernah aku pikir sebelumnya, mungkin kamu ga sadar, dan aku ga tau apakah aku harus berterima kasih atau malah mencaci kamu. Dan sampai sekarang, aku masih merasa sangat bodoh.
De… mungkin kamu mau tau kenapa aku selalu ngucapin kata putus setiap kali kita bertengkar. Dari awal aku udah tau kalau kita beda, ga ada yang bisa disatuin, tapi aku selalu berusaha nyatuin perbedaan-perbedaan itu. Dan hasilnya kita bisa bertahan selama 2 tahun. Tapi lama kelamaan, aku cape De’ terus – terusan mencoba menyatukan perbedaan itu. Tapi kamu sendiri, apa yang udah kamu lakukan untuk perbedaan – perbedaan itu? Ga ada kan?
Yang Cuma bisa aku lakukan sekarang adalah, membiarkan kamu dengan kehidupan kamu. Aku ngerasa kamu udah ga begitu butuh aku. Kalaupun butuh, paling – paling karena kamu sudah kehabisan uang, sedangkan disaat aku lagi butuh kamu, ga ada yang bisa aku lakuin De’. Paling – paling cuma menghayalkan kehadiran kamu, mengingat – ingat saat bersama kamu. Entah cinta macam apa itu? Masing – masing berjalan sendiri. Hidup di dunianya masing – masing tanpa ada yang coba menyatukan. Kalau kamu pergi, aku ga pernah tau kemana. Hanya pada saat disisi akulah kamu milik aku utuh. Selebihnya setelah kamu keluar dari pintu itu, serasa ada yang mengiris di hati.

Jarang banget aku punya hari – hari indah bersama kamu, mana pernah aku merasa memiliki kamu secara utuh, mana pernah aku tahu kapan kamu cemburu? Saling sayang atau saling memberi perhatian tentang keseharian kita. Apa pernah aku ngerasain semua itu dari kamu? Sungguh De’, aku ga tau kamu ada dimana saat batin ini sesak penuh tanya tentang kamu, perhatian kamu, saat aku tenggelam dalam keraguan tentang kamu.
De… betapa ingin aku katakan semua itu dihadapan kamu. Saat seperti itulah aku ingin kamu ada disisi aku untuk meyakinkan bahwa ragu – ragu itu ga perlu. Bahwa cinta kamu memang hanya untuk aku, dan aku ingin dengar kata – kata sayang kamu.
Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menuntut hak aku sebagai cowok kamu? Seharusnya aku memang punya hak untuk menuntut itu semua, tapi akhirnya semua tuntutan itu aku telan sendiri. Itulah sebabnya kenapa aku gampang sekali ngucapin kata putus. Bukan karena aku ga sayang sama kamu, atau kamu ga pantas buat aku De’, bukan itu, aku ga pernah pedulikan itu. Hanya saja sebagai cowok kamu, aku ingin dihargai, dicintai dengan cinta yang sesungguhnya. Apa itu terlalu berlebihan?
Itulah yang membuat aku letih menyayangi kamu De’. Dan aku semakin yakin kalau suatu saat aku ga sanggup lagi menyayangi kamu. Entah apalagi yang harus aku lakukan untuk membuat kamu ngerti.
De… kapan sih kamu mau belajar untuk ngertiin aku? Tapi percuma juga aku bilang begini, toh kamu ga akan pernah mencoba untuk ngerti. Semua berjalan hambar ya De’? Selama 2 tahun ini kita ga punya kisah – kisah manis, cinta kita cuma angan dan bayangan tanpa kebersamaan. Kita belum menorehkan kisah apa – apa tapi cukup menyakitkan.

Hari sabtu seninl 5 Januari 2008, itu hari terakhir kita ketemu De’. Aku ga bisa boong kalau aku seneng banget kita bisa ketemu lagi, nyambung lagi, tapi aku ga bisa menunjukkan itu. Aku ragu De’, begitu lama kita ga ketemu, aku ga tau apa hati kamu masih untuk aku. Sebab aku ga mau mempermalukan diri sendiri, menunjukkan kebahagiaan dan masih menganggap kamu cewek aku. Sedang kamu sendiri ga merasa begitu. Apa itu namanya bukan mempermalukan diri sendiri?
Ga ada yang kita bicarakan hari itu De’. Semua berlalu dengan kesunyian. Ga ada satu kata pun yang keluar dari mulut kamu yang bisa mengusir keraguan aku. Kita memang saling bicara, tapi apa artinya? Padahal saat itu aku ingin meluk kamu, biar kamu ga pergi lagi. Aku ingin kamu yakinkan aku bahwa kamu masih sayang aku.
Aku tahu ada rasa kecewa dan tidak puas di mata kamu. Padahal aku ga ingin pergi saat aku keluar dari tempat kamu. Aku ingin menghapus mata letih kamu. Tapi aku ragu De’, aku ga bisa berbuat apa – apa. Aku akui kadang – kadang kata – kata aku memang menyakitkan, maafkan untuk itu. Aku juga nyesel. Aku sebenernya ingin membantu mencari semangat hidup kamu. Tapi dari kalimat – kalimat yang kamu katakan, ga satu pun yang menunjukkan kalau kamu butuh aku. Bikin aku tambah ragu, aku ragu mengutarakan rasa sayang aku, Aku ragu meraih tangan kamu, hingga akhirnya semua tertelan gitu aja.
Ada yang berubah di hati kamu De’, ga ada lagi kepercayaan. Aku melihat keraguan dimata kamu, aku juga melihat keresahan disitu. Tapi kamu terlalu tinggi hati untuk utarakan semua perasaan yang tengah ada, kamu terlalu angkuh untuk akui kalau kamu masih sayang aku. Hingga tak terungkap, menyesakkan!!!!
Entah kapan kita ketemu lagi. Sikap kamu dingin sekali saat itu De’. Dan aku pikir kenapa kita harus balik lagi kalau akhirnya Cuma saling nyakitin? Kehadiran kamu pun ga bisa memberikan apa – apa, atau rasa sayang kamu udah ga ada lagi. Bener kan De’? Tolong katakan, apa itu bener?
De…. apa kita bener – bener akan berakhir? Apa kita akan sama – sama kalah ? Sama – sama saling mengunci diri? Aku harus melakukan apa biar bisa buat kamu seneng? Aku ingin memperbaiki semua. Aku udah terlanjur sayang kamu De’. Kenapa sih kita harus balik lagi? Kalau seolah – olah sikap kamu menyalahkan aku karena kurang perhatian. Entah gimana lagi caranya biar kamu bias ngerti.
Sekarang kamu mau pergi setelah aku percaya kamu, setelah aku benar – benar nerima kamu apa adanya, setelah aku memberikan semua yang kamu perlukan. Karena aku pikir, biar kamu aja yang boleh melakukan itu semua, biar aku bisa mengunci diri aku buat cewek lain. Karena hati ini cuma buat kamu. Tapi apa kenyataannya sekarang? Kamu sia – siakan begitu saja.
De… aku rasa cukup untuk diungkapkan. Banyak masalah yang tertutupi, kita gak mau saling terbuka De’. Ga mau saling menerima atau memberi. Kita hanya bisa menuntut dari cinta yang ga seberapa kuat. Coba renungi sekali lagi De’, ternyata kita keliru untuk bisa satu hati. Kita ga mau saling mengaku kalah. Sama – sama egois, terlalu angkuh untuk tegas, terlalu tinggi hati untuk mengakui kalau kita sama – sama saling membutuhkan. Kita ga mau saling mengalah kan De’??
Belakangan ini aku sering dihantui bayang – bayang kamu De’, Aku coba cari jawaban dari sikap kamu tempo hari. Aku enggan berhenti mencari jalan terbaik untuk kita tempuh, aku ga mau berhenti mengingat kamu. Karena aku memang ga punya kekuatan untuk itu.
De… mungkin memang lebih baik kita pisah aja ya? Berat memang untuk mengatakan itu, perpisahan dimana – mana ga ada yang menyenangkan. Apalagi dengan orang yang kita sayangi, perpisahan ibarat kematian kecil yang cepat atau lambat dia pasti datang. Dan untuk kita, mungkin saat ini.
Aku sadari sepenuhnya De’, ternyata cinta ga sesederhana yang aku bayangin, ga semudah itu, tidak juga seindah impian – impian kita ya De’? Ternyata cinta kita sulit sekali De’, paling sulit diantara yang tersulit. Tapi apakah cinta kita sulit dimengerti? Atau kamu yang masih terlalu muda untuk dijatuhi rasa cinta? Atau aku yang salah menafsirkan rasa suka ketika pertama kali kita ketemu? Aku ga bisa jawab De’!!! Tapi aku menyimpulkan bahwa diantara kita ga ada yang bisa dipertahankan lagi.
Aku malu De’, malu pada diri sendiri, malu sama orang lain, malu pada diri kita, malu pada cinta kita. Cinta kita rapuh, ga mampu berjalan sendiri. Aku malu dengan harapan – harapan yang aku letakkan begitu tinggi, bahkan melebihi angan – angan. Dan ternyata tak satu pun dari harapan – harapan itu mampu kita wujudkan.
De… sekarang kamu bisa pergi sejauh kamu suka. Seperti yang kamu pinta. Sekarang kamu ga perlu lagi merasa harus pulang, kamu ga perlu lagi merasa di kejar bayang – bayang aku. Kalaupun kamu datang, ga ada lagi yang kamu cari disini, ga ada lagi cinta, ga ada lagi kangen, atau juga ga ada lagi aku yang dulu menyayangi kamu. Semua akan kembali seperti dulu, seperti kamu belum mengenal aku.
Dengan ini juga aku sampaikan rasa terima kasih atas saat – saat indah yang pernah kamu berikan, terima kasih atas cinta, perhatian dan kasih sayang yang pernah aku terima dari kamu. Mungkin kita memang berbeda haluan ya De?
Terakhir aku pinta dari kamu, ternyata aku ga bisa merubah kamu. Cinta ku pun ga bisa merubah kamu untuk lebih baik. Mungkin cuma kamu yang bisa menentukan untuk berubah atau tidak. Besok kita ga sama – sama lagi De, tolong jaga diri kamu baik – baik, setidaknya untuk kamu, cari masa depan kamu. Buang hal-hal yang ga perlu aku katakan sekarang, karena esok aku sudah gak punya hak lagi ikut campur urusan kamu. Dan aku yakin, besok atau lusa akan ada hati lain yang lebih baik, lebih perhatian, lebih setia, dan lebih sayang, seperti aku pernah sayang sama kamu. Jangan sia – siakan dia ya De! Cukup aku aja yang merasa begitu.
Ternyata kita sama – sama kalah De, ga mau berkorban sedikitpun demi cinta. Udah ya De, aku udah bicara banyak. Semua terangkum disini. Kamu ga usah nyesel atau kecewa, dunia kita udah hancur. Dunia yang hanya terdiri antara aku dan kamu.

Yang selalu menyayangi kamu
Thanks ya de, Byeeee……

February 10th, 2008 at 11:58 pm