Matahari seperti terlihat lelah, sebentar ia sembunyi di balik awan, kemudian menghilang di balik gunung. Dan bulan yang seperti terpaksa, muncul menggantikannya.
senja, saat kuinjakan kaki di atas rel kereta stasiun kota kecil ini. Ransel kecil yang kusandang bersandar pasrah di bahu, begitu banyak kenangan padanya.
Pelan, dibisikannya padaku,
“akankah kau beri sesuatu padaku,”
“ cerita apalagi, yang akan kau letakkan di sisi kantong kecil ini, sedang melihat kota kecil yang sombong ini saja aku merasa seperti akan terluka, tapi,… tak apa bila luka itu membuat kita semakin dewasa.”
Ah…..Ransel kecilku, bukankah kita berjanji menjadi cerita, dan bukan menebaknya. Kutepuk debu dibawahnya, kuajak ia melangkah.
Lampu – lampu jalanan yang tak mampu menggertakku, membiarkanku memasuki lorong – lorong sunyi sepi.
Hatiku sepi, hingga sepasang mata mengawasi. Seperti hendak mengatakan sesuatu. Matanya memandangku, menangkapku, juga seperti tak berdaya. Seperti terpana kubaca pandangannya :
“ Mengapa mencariku “
kupejamkan mataku, panjatkan syukur pada sepasang mata itu. Kubalas tatapannya
“ Apakah kau tahu, aku lah yang mencarimu. Pada titik sepi.”
Dia diam seperti ragu ,
“ Bilakah kau benar mencariku ?”
Seperti hendak berlalu diraihnya tanganku, diajaknya aku dalam pelariannya. Sendiri.?
Daun – daun yang berguguran, ranting kering angsana, pada jalanan yang berdebu, berbaris gelisah seperti menunggu saat yang tepat untuk menceritakan segala sesuatunya, padaku,…ya, padaku.
Aku diam saja dan terus berjalan dibelakangnya, tanpa peduli. Hingga terasa makin erat pelukan ranselku, seakan ia hafal dengan kejadian ini, yang gelisah dan mulai berbisik
“ ini seperti perjalanan waktu lalu, yang belum pernah berhasil kita lewati, bias, samar dan hilang begitu saja. Hingga membuatmu tenggelam dalam bayang – bayang masa depan saja yang kau kejar, namun kau lupakan hari ini. Lupa diri sendiri.”
Badannya mulai basah oleh peluh tubuh, dengan pelan kuangkat naik ke bahu, ma’afkan aku,
“ ber do’a lah atas akhir dari pencarian kita, semoga ini cerita sebenarnya.” Ranselku mengiyakan seraya menyiapkan pena dan buku dalam hatinya.
Malam di bantu awan gelap seperti mencekik rembulan, mereka berharap bulan dapat menjaga rahasia.
Hanya angin yang bebas berkeliaran, saat langkahnya terhenti pada kuburan perasaan.
Dihadapanku, dipandanginya mataku dengan lautan pertanyaan, pelan dan mematikan,:
“ Bagaimana denganmu, apakah kau mengerti jika aku mengajakmu dalam pelarianku, memahami para korbanku, yang terbujur kaku dikuburan perasaan ini, masihkah kau mencariku ?”.
kusimpulkan dengan senyum, tanpa memberitahu, kalau akupun begitu, seperti kata bulan, bintang, matahari, dan sekalian sahabatku. yang sampai detik ini belum dapat kupahami masalah dan duduk persoalannya, aku hanya pejalan kaki yang mencoba berjalan dengan kata hati. Lalu kuraih bayangannya, kuajak ia mencari tahu.
Pada malam saat burung – burung pulang kesarang, saat duka terlihat samar, saat orang sibuk dengan fikirannya masing – masing, kaupun menanyakan keadaanku :
“ bagaimana kau terlalu mencariku ?”
Jangan dijawab !, ransel kecilku mengingatkanku akan masa lalu, kemudian terlihat sangat takut saat ku jawab pertanyaanmu tanpa air muka,
“ Pada masa lalumu, aku tak mau tahu, Apakah kau tak tahu, aku mencarimu, kemana – mana, pada siapa – siapa, terutama pada titik sepi. “
Aku adalah satu pada satu – satu, keinginan ku cuma satu, “ Mencarimu” tanpa dua kali mengucapkannya
Lalu mengapa kau masih ragu, sedang kau pun sering begitu. Ku rangkul ransel kecil disampingku, lelah yang amat sangat begitu terasa pada pegangannya. Ku usapkan perasaan, padanya kubisikan sesuatu
“ jalan kita masih panjang, bukankah kita sudah terbiasa, dan apapun yang terjadi, ini hanyalah perjalanan”
“ aku mengerti “ ranselku pun mulai sembunyi.
Kini ganti kupandangi kau yang di balut ragu, dan kemauanmu. Akupun bersandar pada pendirianku.:
“ Kau…tak perlu mau, aku hanya ingin ‘mencarimu’ tapi juga tak pernah ingin memaksamu, Itu aku jika perlu. “
Kemudian kuangkat ransel kecilku, ku tepuk debu dibawahnya, ku ajak ia melangkah.
Waktu berlalu, memaksaku merapikan semua kenanganku padamu, cuma satu. Bila aku sudah terbiasa, maka semua seperti biasa saja…..
Hingga malam yang gamang, menyampaikan kegalauannya padaku, dengan enggan dia berkata :
“ kekasihmu, tenggelam dalam lautan air mata, kini terkapar dipantai tempat di mana ia mempertanyakan segalanya.”
Dan aku yang tergetar, lemas bersimpuh “ Allahu Akbar “, ingin rasanya kuhajar malam yang pucat pasi saat ku maki :
“ Mengapa harus dia “
“ Kenapa kau tak bunuh aku, yang takut memperjuangkan keinginanku, padanya, dalam mengakhiri pencarianku”
“ dan “
“ kenapa pula harus dia, yang sedang kacau dengan perasaannya.”
“ dan kau juga, “malam” mengapa kau menemaninya dengan kalimat cinta, yang hanya dimiliki para dewata. “
“ kalau kau inginkan aku, bukankah aku sudah tenggelam dalam malammu. Atau haruskah ku adukan kelakuanmu pada kesombongan matahari, hingga membuatku menancapkan belati, pada ketidak berdayaanku yang tinggal satu.”
“Atau,…entahlah.” aku tak berani membayangkan dirimu yang hilang, patah dan tak berdaya.
Hingga pagi menjelang, menghentikan sumpah serapahku pada malam. Aku berdiri.
Kupandangi ransel kecilku. Ma’afkan, aku tak sanggup menunggu usainya jalan cerita.
Hingga kau temukan aku dalam perjalananmu
Berikanlah aku waktu
Untuk memburumu
Mendapatkan Ilmu, Waktu dan Hidupku
Itupun bila kau mau
Dan bila aku mampu
Kemudian kuangkat ransel kecilku,
kutepuk debu dibawahnya.
Ku ajak ia melangkah.
Meninggalkan kota kecil yang sombong ini.