<

PRAKATA
Hitam putihnya hidup
Bukan untuk disesali
Tapi untuk diyakini
Tanpa lebih menghitam putih kan nya


MUKADIMAH

    Semua puisi, syair, atau kata-kata yang tertulis disini adalah sebuah kisah yang mungkin masih punya makna, catatan hati dariku untuk seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupku, ini hanya sebuah kisah yang aku rasa cukup perlu untuk kutulis dan disimak. Dan ini adalah kejujuran, entah asalnya dari mana, tak ada yang harus tidak dipercaya, kalaupun ada mungkin cuma ungkapan-ungkapan yang aku sendiri tidak tahu artinya.
    Kisah ini kutulis untuk kamu, bukan untuk mengumbar perasaan atau kata-kata, juga bukan untuk membuatmu merasa menang atau bersalah. Aku hanya ingin kau bisa belajar untuk menghargai sebuah hati yang mungkin tak pernah kau mengerti atau kau sadari, dan hati itu adalah.. … hatiku!
Sebelum kumulai kisah ini, ingin aku ingatkan padamu, bahwa cerita ini tak akan pernah ada dan tak akan pernah aku mulai kalau bukan aku sendiri yang mengalaminya, ketika pertama kali aku bertemu kamu, pertama kali aku mengenal kamu, mungkin kau pun tahu setelah pertemuan itu semua berjalan dengan menyenangkan, sebab kita yang mengalaminya.
    “Kau tak perlu mengingat seluruhnya tak ada yang perlu dijadikan kenangan waktu itu, sekarang aku tak akan bicara apa-apa lagi, tak perlu, semua terungkap disini kau tak perlu bertanya lagi, sebab kau tak akan dapat apa-apa dari mulutku, semua sudah terangkum disini, mungkin tanyamu akan terjawab setelah kau baca buku ini, tak ada yang perlu kukatakan lagi kan ?”
Sekali lagi, semua yang baca kisah ini, jangan pernah ambil kesimpulan yang nantinya akan malah menyakitkan.
    Seperti yang acapkali kita jelang dan datangnya justru pada saat kita baru saja tenggelam dalam kebahagiaan semu dan selalu saja datang terlambat, ialah seperti sebuah kesadaran yang akhirnya memaksa kita untuk menyesali nya.
Entah,… berapa kali itu terjadi pada hidup  seseorang, sebenarnya kalau kita ingin lebih memahami, kita jangan terlalu memikirkan waktu yang telah lewat, namun mengapa seseorang harus terluka kalau hanya untuk memperbaiki sesuatu yang salah. Ada satu kehidupan dimana seseorang harus belajar dari kesalahan dan berbuat lebih baik dari pada harus melakukan kesalahan yang sama.
Simaklah, siapapun tak ada yang memaksa untuk membaca buku ini, sipapapun tak ada yang meminta untuk menyimpan kisah ini, hanya saja ini adalah kisah-mu, aku, dan cinta yang tak berwarna.
Dian Alamanda


SETELAH BERLALU

    Entah mengapa selalu saja ada sesuatu tentang mu yang selalu ingin kutulis disini, walau kutahu sudah tak perlu lagi, namun mengapa selalu saja ada yang ingin kutulis walau hanya sepenggal kisah yang sama sekali tak menarik.
    Entah mengapa ada rasa sakit disini, setelah malam-malam terlewati tanpa mu, namun aku hanya bisa terpaku diam dan menyesal menantimu, bersama berlalunya malam kubunuh mati mimpi-mimpi biar tak tersisa lagi luka hati yang menyakitkan.
Seharusnya memang tak harus kubiarkan kau memporak-porandakan keangkuhanku, me-nginjak-injak puing istana ketegaranku dan men-cabik-cabik pintu hatiku, seharusnya memang tak harus kubiarkan kalau pada akhirnya harus kutata lagi dari awal setelah kau meninggalkanku dengan ketidak pedulian.
   
Betapa sulitnya kubangun semua itu dengan susah payah, dengan bara kebencian, dengan luka hati yang menganga yang kujadikan satu menjadi suatu keangkuhan, kau tak tahu, betapa indahnya istana ketegaranku yang kudirikan dengan susah payah, betapa megahnya tugu keangkuhanku tanpa mimpi semu, atau omong kosong tentang cinta dan air mata.
    Lalu tanpa kau sadari kau datang dan perlahan kau buat aku terombang-ambing dalam angan-angan tentangmu yang sebenarnya sangat menyakitkan, dan perlahan kau hancurkan semuanya hanya dengan sebuah senyum sesaat, memberiku asa yang indah, yang kini tak kutemui lagi, dan tak ingin kutemui lagi.

CINTA TANPA RESTU
    Mengapa orang dewasa bisa bertindak sekejam itu?, kenapa dengan kedewasaan yang selalu mereka agungkan itu mereka tidak bisa memahami dirinya?, seolah-olah mereka sengaja menciptakan sebuah tembok tinggi bahkan lebih tinggi dari pada tembok penjara yang kerap membatasi anak-anak mereka yang sedang dilanda cinta dengan orang dewasa, dan kian hari tembok pemisah itu kian tebal, seperti benteng yang mengukung kita dalam masa topan dan badai yang tidak menentu ini.
    Seandainya saja orang-orang dewasa diluar sana itu lebih mau mengerti, seandainya mereka mau membuat sebuah lubang kecil pada tembok yang tebal itu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu anak-anak mereka melewati masa yang sulit ini

April 16th, 2007 at 12:38 pm